Dosen dan Ibu Dua Anak Tembus Scopus Q1 Tanpa APC
Syilvia Mustanuri Jannah, dosen dan mahasiswa S3 UNY, menembus jurnal Wiley terindeks Scopus tanpa biaya publikasi. Pelajaran dan jebakan yang perlu dihindari.
Jawaban singkat
Syilvia Mustanuri Jannah, dosen, pendiri Smart Education Solo, dan mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa Inggris UNY, menembus jurnal internasional terbitan Wiley (Sexuality, Gender & Policy) sebagai penulis pertama tanpa membayar biaya publikasi, padahal sebelumnya ia belum pernah terbit di jurnal SINTA. Waspadai tawaran 'kolaborasi' berbayar; terbit di jurnal Scopus tanpa APC dimungkinkan.

Publikasi internasional sering dianggap milik peneliti yang sudah berpengalaman. Kisah Syilvia Mustanuri Jannah membantah anggapan itu. Ia seorang dosen, pendiri Smart Education Solo, ibu dua anak, dan mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Seperti yang ia bagikan, ia memulai dari nol publikasi, bahkan belum pernah terbit di jurnal SINTA. Kini artikelnya terbit di jurnal internasional terbitan Wiley, sebagai penulis pertama, tanpa membayar biaya publikasi.
Artikelnya
Artikelnya berjudul Revealing Women's Images in Charles Perrault's Cinderella: A Study Employing Ideological Feminist Literary Criticism. Artikel ini ditulis bersama Maman Suryaman dan Suminto A. Sayuti, dan terbit di jurnal Sexuality, Gender & Policy (Wiley), Vol. 8 Issue 3, dengan DOI 10.1002/sgp2.70016. Artikel ini pertama kali terbit daring pada 25 Juni 2025. Menurut unggahan kami, jurnal ini terindeks Scopus Q1. Data agregator SCImago menunjukkan peringkat Q1 itu ada di kategori Cultural Studies, sedangkan di kategori lain seperti Gender Studies jurnal ini berada di Q2. Kuartil memang bisa berbeda untuk tiap kategori bidang ilmu.
Risetnya lahir dari ketertarikan pada cara dongeng klasik membentuk persepsi masyarakat tentang peran perempuan sejak berabad-abad lalu. Temuannya menunjukkan bahwa kajian sastra feminis pun bisa menembus jurnal internasional bereputasi.
Perjalanannya
Seperti yang ia ceritakan, perjalanan Syilvia dimulai dari titik yang familiar bagi banyak dosen: belum punya publikasi sama sekali. Ia pernah mundur dari sebuah tawaran "kolaborasi" Scopus karena diminta iuran jutaan rupiah, dan sempat berpikir publikasi internasional bukan untuknya.
Studi S3 mengubah cara pandangnya. Ia belajar dari nol, dan memahami bahwa penolakan adalah bagian normal dari proses, bukan akhir dari segalanya.
"Tidak harus menjadi sempurna untuk mulai melangkah. Publikasi internasional dapat diraih oleh siapa saja yang mau terus belajar, bertahan, dan tidak menyerah dalam prosesnya."
Waspadai tawaran "kolaborasi" berbayar
Bagian cerita ini penting untuk banyak dosen. Tawaran untuk "ikut menjadi penulis" di artikel Scopus dengan membayar sejumlah uang termasuk praktik yang bermasalah. Menambahkan nama orang yang tidak ikut meneliti dan menulis melanggar etika kepenulisan, dan jurnalnya pun sering bermasalah. Untuk kenaikan jabatan, aturan terbaru juga mensyaratkan posisi penulis pertama atau korespondensi untuk syarat khusus. Lihat syarat publikasi jurnal untuk S2, S3, dan jabatan dosen dan ciri jurnal predator.
Bisakah terbit di jurnal Scopus tanpa APC?
Bisa. Banyak jurnal internasional, termasuk dari penerbit besar, punya jalur terbit tanpa biaya publikasi bagi penulis. Biasanya artikelnya hanya bisa diakses pelanggan, bukan akses terbuka. Ada juga jurnal akses terbuka yang memberikan pembebasan biaya dalam kondisi tertentu, atau biayanya ditanggung kampus dan lembaga pendanaan. Cek halaman Author Guidelines atau Article Publishing Charges jurnal tujuan untuk memastikan.
Gambaran biaya jurnal Scopus ada di biaya publikasi jurnal Scopus.
Pelajaran yang bisa kamu tiru
1. Mulai dari bidang yang kamu kuasai
Syilvia menulis tentang sastra dan gender, bidang yang dekat dengan studinya. Riset dari bidang yang kamu kuasai lebih mudah dipertahankan di depan reviewer.
2. Beri sudut pandang baru pada topik lama
Cinderella adalah cerita yang sangat dikenal. Kebaruannya datang dari pendekatan: kritik sastra feminis ideologis. Topik lama dengan sudut pandang baru bisa sama kuatnya dengan topik baru.
3. Belajar dari penolakan
Penolakan dari jurnal internasional sering disertai masukan berharga. Perbaiki, lalu kirim ke jurnal yang lebih sesuai. Penyebab umum penolakan ada di alasan artikel jurnal ditolak.
4. Bekerja sama dengan promotor
Kedua rekan penulisnya adalah akademisi senior di bidangnya. Bimbingan yang tepat mempercepat proses belajar menulis untuk jurnal internasional.
5. Kenali cara kerja editor internasional
Judul, abstrak, dan cover letter menentukan kesan pertama. Lihat tips supaya editor jurnal internasional tertarik.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah harus punya publikasi SINTA dulu sebelum Scopus? Tidak wajib. Pengalaman di jurnal nasional membantu, tapi naskah yang kuat dan sesuai ruang lingkup jurnal bisa langsung menembus jurnal internasional.
Bagaimana membedakan kolaborasi yang sehat dan yang bermasalah? Kolaborasi yang sehat berarti setiap penulis ikut meneliti atau menulis, dan tidak ada "jual beli" posisi penulis.
Siap memulai publikasi internasional pertamamu?
Helpin Publisher mendampingi publikasi Scopus dari pemilihan jurnal, termasuk jurnal tanpa APC bila sesuai, sampai revisi. Lihat jasa publish jurnal Scopus atau konsultasi gratis.




