Hafiz 30 Juz Tembus Jurnal SINTA 1: Kisah Ahmad Baiquni
Ahmad Baiquni, mahasiswa PAI UM Kendari dan hafiz 30 juz, menulis artikel dampak ChatGPT di jurnal SINTA 1. Ini perjalanannya dan cara memilih topik riset.
Jawaban singkat
Ahmad Baiquni, mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Kendari dan hafiz 30 juz, menjadi penulis pertama artikel 'Analysis of the Impact of ChatGPT on Learning Productivity of Islamic Education Students' di EDURELIGIA (Universitas Nurul Jadid), jurnal terakreditasi SINTA 1, terbit Juni 2025. Pelajarannya: teliti perubahan yang sedang terjadi di sekitarmu dan lihat dua sisinya.

Ahmad Baiquni bukan mahasiswa yang hanya sibuk di satu bidang. Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Kendari ini hafiz 30 juz dan alumni pesantren. Ia juga pernah mewakili Indonesia di forum santri di tiga negara ASEAN. Kini namanya tercatat sebagai penulis pertama artikel di jurnal terakreditasi SINTA 1.
Artikelnya
Artikel Ahmad berjudul Analysis of the Impact of ChatGPT on Learning Productivity of Islamic Education Students. Ia menulisnya bersama Tri Indah Rusli, Juhardin, Lely Kholida, dan Arsam. Artikel ini terbit pada Juni 2025 di EDURELIGIA: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 9 No. 1, dengan DOI 10.33650/edureligia.v9i1.10407.
EDURELIGIA dikelola Universitas Nurul Jadid. Jurnal ini berstatus terakreditasi SINTA 1 di portal SINTA, peringkat tertinggi akreditasi jurnal nasional.
Apa yang ia teliti
Risetnya berangkat dari keresahan yang dekat dengan kehidupan kampus: bagaimana ChatGPT mengubah cara mahasiswa PAI belajar. Ia melihat dua sisi sekaligus. Di satu sisi, AI membuat belajar lebih efisien. Di sisi lain, ada ketergantungan pada teknologi yang perlu diwaspadai.
Topik ini terus relevan karena kampus di Indonesia sedang mencari cara menyikapi AI generatif. Mahasiswa yang meneliti perubahan di sekitarnya punya keuntungan: ia mengenal lapangannya dari dalam.
Dari panggung MHQ sampai forum ASEAN
Seperti yang ia bagikan, sebelum namanya masuk jurnal, Ahmad meraih juara 1 Musabaqah Hifzhil Qur'an (MHQ) Nasional 2024 mewakili perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Pada Februari 2026, ia menjadi salah satu wakil Indonesia di International Conference Santri Mendunia (ICSM) yang berlangsung di Malaysia, Singapura, dan Thailand, seperti diberitakan Good News From Indonesia. Di forum itu ia mempresentasikan paper ilmiah di depan akademisi dari ketiga negara.
Kisahnya menunjukkan bahwa santri tidak hanya hadir di masjid dan majelis ilmu. Santri juga bisa bicara di jurnal ilmiah dan forum internasional. Karya tulis menjadi salah satu jalan untuk membuka peluang yang lebih luas.
Pelajaran yang bisa kamu tiru
1. Teliti perubahan yang sedang terjadi di sekitarmu
ChatGPT masuk ke ruang kelas dengan cepat, sementara penelitiannya masih sedikit. Celah seperti ini dicari editor jurnal. Perhatikan perubahan di lingkunganmu, lalu tanyakan dampaknya.
2. Lihat dua sisi, jangan hanya memuji atau mengecam
Riset Ahmad membahas manfaat dan risiko AI sekaligus. Sikap seimbang seperti ini membuat temuan lebih dipercaya reviewer.
3. Hubungkan dengan bidang ilmumu
Ahmad tidak meneliti AI secara umum. Ia meneliti dampaknya pada mahasiswa pendidikan agama Islam. Sudut pandang bidang ilmu membuat artikelnya punya tempat yang jelas di jurnal PAI.
4. Tulis bersama tim
Artikel ini ditulis lima orang. Kerja tim membantu pembagian tugas, dari pengumpulan data sampai penulisan. Bicarakan urutan penulis sejak awal supaya jelas siapa yang menjadi penulis pertama.
5. Pahami etika memakai AI saat menulis
Meneliti AI berbeda dengan memakai AI untuk menulis artikel. Kalau kamu memakai alat AI selama menyusun naskah, pahami batasannya. Panduannya ada di etika publikasi artikel dengan AI.
Menargetkan jurnal SINTA peringkat atas?
Jurnal SINTA 1 dan 2 menuntut kebaruan dan metode yang kuat. Kalau kamu ingin tahu kesiapan naskahmu, konsultasikan gratis dengan tim Helpin Publisher. Kami bantu menilai naskah dan memilih jurnal yang sesuai bidangmu. Keputusan akhir tetap ada di editor dan reviewer jurnal.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa bedanya SINTA 1 dengan peringkat lain?
SINTA 1 adalah peringkat tertinggi akreditasi jurnal nasional. Aturan terbaru membagi peringkat menjadi SINTA 1 sampai 4. Penjelasannya ada di penjelasan peringkat SINTA dan cara cek akreditasi jurnal SINTA.
Apakah topik tentang AI masih diterima jurnal?
Masih, terutama yang meneliti dampaknya pada kelompok tertentu, seperti mahasiswa, guru, atau sekolah. Kuncinya adalah pertanyaan penelitian yang spesifik dan data yang kuat, bukan sekadar mengikuti tren.




