Sibuk Organisasi Tetap Tembus SINTA 2: Kisah Masrul
Masrul aktif berorganisasi dan ikut MTQ, tapi artikelnya terbit di jurnal SINTA 2 dan menggantikan skripsi. Ini perjalanannya dan cara membagi waktu.
Jawaban singkat
Masrul Maulana Pratama, mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Palangka Raya, menerbitkan artikel di jurnal SINTA 2 di tengah jadwal organisasi yang padat, dan lulus dalam 3,5 tahun dengan predikat cumlaude tanpa menyusun skripsi. Kuncinya arah, bukan waktu luang: tetapkan tujuan dan tenggat, pecah pekerjaan menjadi tugas kecil, dan sediakan waktu menulis yang tetap.

"Saya sibuk, tidak sempat menulis jurnal." Kalimat ini sering muncul dari mahasiswa yang aktif berorganisasi. Masrul Maulana Pratama punya jawaban berbeda. Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Palangka Raya ini tetap menerbitkan artikel di jurnal SINTA 2 di tengah jadwal yang padat.
Siapa Masrul dan apa yang ia teliti
Seperti yang ia bagikan lewat unggahan kolaborasi di Instagram Helpin Publisher, Masrul berasal dari keluarga transmigran di Desa Garantung, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Ia lulus dalam 3,5 tahun dengan predikat cumlaude, tanpa menyusun skripsi. Selama kuliah ia aktif berorganisasi, membina pelajar, ikut MTQ Nasional, dan hadir di forum ilmiah nasional maupun internasional. Ia juga meraih gelar Juara 1 Duta Peneliti Muda Studi Kalimantan 2026.
Artikelnya berjudul Julia Kristeva Intertextual Reconfiguration of Interpretation of Rūḥ al-Qudus: An Analysis of Tafsīr ath-Ṭhabarī and al-Kabīr on Q.S. Al-Baqarah [2]:87. Artikel ini terbit di Jurnal Ushuluddin volume 33 nomor 2 tahun 2025, dengan DOI 10.24014/jush.v33i2.38735. Masrul menjadi penulis pertama, bersama Desi Erawati, Nor Faridatunnisa, dan Mualimin. Jurnal yang dikelola Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau ini berstatus terakreditasi SINTA 2 di portal SINTA.
Penelitiannya mengkaji tafsir klasik dengan pendekatan intertekstualitas. Hasilnya menunjukkan bahwa kajian keislaman juga bisa tampil di jurnal nasional bereputasi.
Kuncinya arah, bukan waktu luang
Masrul tidak punya waktu lebih banyak dari mahasiswa lain. Menurutnya, kuncinya sederhana: bukan soal sibuk atau tidak, tapi soal arah. Kalau tujuannya jelas, waktu akan menyesuaikan.
Ia melihat jalur publikasi sebagai peluang yang sangat baik. Selain menyelesaikan kuliah, hasil penelitiannya bisa memberi manfaat akademik dan dibaca lebih luas.
Cara membagi waktu untuk menulis jurnal
Kalau jadwalmu padat, cara berikut bisa membantu.
1. Tetapkan tujuan dan tenggatnya
Tulis targetmu dengan jelas, misalnya "naskah siap submit akhir semester ini". Tujuan yang jelas membuat kamu lebih mudah menolak kegiatan yang tidak penting.
2. Pecah pekerjaan menjadi tugas kecil
"Menulis artikel" terlalu besar untuk dikerjakan di sela kegiatan. Pecah menjadi tugas kecil seperti membaca tiga rujukan, menulis satu subbab, atau merapikan daftar pustaka. Tugas kecil lebih mudah diselipkan di jadwal yang padat.
3. Sediakan waktu menulis yang tetap
Satu sampai dua jam di waktu yang sama setiap hari sering lebih efektif daripada menunggu hari kosong. Pilih jam saat kamu paling fokus, misalnya pagi sebelum kegiatan dimulai.
4. Hubungkan kegiatan dengan penelitianmu
Masrul aktif di forum ilmiah. Forum seperti ini bisa menjadi tempat menguji gagasan, mendapat masukan, dan menemukan rujukan baru. Pilih kegiatan yang mendukung penelitianmu kalau memungkinkan.
5. Libatkan dosen sejak awal
Artikel Masrul ditulis bersama beberapa penulis lain. Kerja sama dengan dosen membuat beban terbagi dan kualitas naskah lebih terjaga. Kalau artikelmu berawal dari tugas akhir, baca cara mengubah skripsi jadi artikel jurnal.
Cek dulu aturan kampusmu
Lulus tanpa skripsi lewat publikasi jurnal tidak otomatis tersedia di semua kampus. Tiap kampus, fakultas, atau prodi menetapkan syaratnya sendiri, misalnya peringkat SINTA minimal dan posisi sebagai penulis pertama. Tanyakan ke prodi atau baca pedoman akademik kampusmu sebelum memilih jalur ini.
Pelajaran dari kisah Masrul
Kesibukan tidak otomatis menutup jalan menuju publikasi. Masrul membuktikan bahwa arah yang jelas dan kebiasaan menulis yang konsisten bisa berjalan bersama organisasi, lomba, dan kegiatan lain.
Butuh pendamping supaya naskahmu tetap jalan di tengah kesibukan? Konsultasikan gratis dengan tim Helpin Publisher. Kami bantu menilai naskah dan memilih jurnal yang sesuai. Keputusan akhir tetap ada di editor dan reviewer jurnal.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah kajian keislaman bisa terbit di jurnal SINTA 2?
Bisa. Ada banyak jurnal terakreditasi di bidang studi Islam, tafsir, dan ushuluddin. Kuncinya sama dengan bidang lain: pertanyaan penelitian yang jelas, metode yang tepat, dan kebaruan.
Berapa jam sehari idealnya untuk menulis artikel?
Tidak ada angka pasti. Yang lebih penting adalah konsistensi. Satu jam setiap hari selama beberapa minggu biasanya lebih produktif daripada satu hari penuh yang jarang terjadi.




